Saturday, April 24, 2010

Ternyata Perokok itu Lebih Baik

Ada 3 orang pemuda yang suka bermalas-malasan. Sebut saja nama mereka A, B, dan C. Ketiganya memiliki kebiasaan buruk. A suka bermain wanita. B suka minum-minuman keras. C suka sekali merokok. Kebiasaan-kebiasaan itu sudah lama mereka jalani.
Pada suatu hari mereka sedang berjalan-jalan mengelilingi desa mereka. Saat berada di daerah yang sepi, mereka menemukan sebuah botol, lalu si A mengambilnya. Si B teringat cerita Aladin yang menemukan sebuah botol dan isinya jin yang bisa mengabulkan segala permintaan.
Tak berpikir lama, si B menyuruh si A untuk menggosok-gosok botol itu. Walhasil botol itu keluar asap dan muncullah sebuah mahluk besar, gundul, hitam, dan wajahnya agak seram.
Singkat cerita, setelah keluar dari botol itu, Sang Jin menawarkan masing-masing 1 pertanyaan kepada setiap pemuda tersebut, dan langsung akan mengabulkan permintaan mereka.
Spontan si A meminta wanita sebanyak-banyaknya, dari suku manapun, dari bangsa manapun, dari yang cantik sampai yang sangat bahenol dan sebagainya. Setelah itu ia minta untuk dimasukkan ke dalam gua dan ditutup rapat-rapat agar selama 10 tahun bisa bercinta dengan ribuan wanita dari segala penjuru dunia.
Kini giliran si B. Mudah ditebak, si B langsung minta minum-minuman keras yang kualitasnya mantap. Pun dari segala macam negara ia minta datangkan. Simpelnya, ia harus menikmati semua macam minuman keras dari manapun dan yang bagaimanapun, kalau perlu baru dicium saja sudah memabukkan. Tidak berbeda, ia minta untuk dimasukkan ke dalam gua selama 10 tahun agar bisa minum sepuasnya.
Tiba giliran si C sang perokok sejati. Ia pun tak mau ketinggalan untuk meminta apa kesukaannya selama ini. Rokok apapun dan dari mana pun. Ia minta sebanyak-banyaknya agar bisa menikmati rokok selama 10 tahun. Sama halnya si A dan B, si C minta dimasukkan ke dalam gua dan ditutup selama 1o tahun.
Hari berganti hahi
Bulan berganti bulan
Tahun berganti tahun
dan tak terasa sudah 10 tahun berlalu.
Sang Jin menepati janjinya, ia membukakan satu persatu gua-gua yang ia berikan kepada 3 pemuda tadi. Gua pertama dibuka, terlihat si A tergeletak lemas setelah 10 tahun bercinta dengan ribuan wanita dari segala penjuru. Sang Jin pun tersenyum sambil berkata dalam hati "Dasar manusia....."
Gua kedua dibuka, si B terlihat mabuk berat karena 10 tahun ia minum minuman keras dengan berbagai macam jenisnya. Sang Jin pun tersenyum kembali seraya berkata dalam hati "Benar, manusia itu rakus..."
Giliran gua ketiga dibuka, tiba-tiba Sang Jin kaget dan terheran-heran melihat si C. Bagaimana tidak, ketika Sang Jin melihat si A dan B lemas dan lemah karena nafsu mereka, ternyata malah si C menjadi lebih bugar, sehat, gemuk, kekar, dan luar biasa kuatnya, padahal ia diberi Rokok banyak sekali. Karena tidak kuat menahan rasa penasarannya, Sang Jin pun bertanya kepada si C: "Hai C, bagaimana engkau bisa menjadi sehat bugar seperti ini, padahal engkau aku beri banyak sekali rokok yang sebenarnya bisa membuatmu sakit?"
Dengan lantang dan agak sedikit marah, si C menjawab: "Dasar Jin Goblok! Engkau memberiku rokok banyak sekali tetapi engkau sangat bodoh tidak memberiku korek api!"...
Sang Jin tertawa: "HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA"


*Disarikan dari penjelasan Romo Habib Umar Muthohar RA.
By: Zidni Darissalam

Read More......

Saturday, April 17, 2010

Ummuka .... Abuuka ....

Tulisan ini dibuat ketika saya mendengarkan salah satu lagu dari pemusik Indonesia yang sudah terkenal. Lagu itu mensyairkan mengenai betapa mulianya ibu di dunia ini. Lagu itu juga menganjurkan untuk selalu taat kepada ibu, selalu mencintai ibu, selalu tidak membantah perintah ibu. Karena dengan dasar bahwa murka Tuhan itu ada dalam orang tua terutama ibu.

Dari lagu tersebut terkesan bahwa ibu itu memiliki kedudukan yang tinggi di hadapan manusia. Ibu sangat mulia dan derajatnya lebih tinggi dari ayah. Paradigma tersebut telah berkembang dan menyebar sejak dahulu hingga sekarang. Banyak sekali para mubalig yang selalu menyampaikan berbagai hal mengenai ini, misalnya mereka lebih banyak menerangkan tentang kelebihan ibu dan kedudukan tinggi atau derajat yang lebih tingginya dari bapak.

Saya cukup heran ketika kita dilahirkan tidak hanya oleh ibu saja, tetapi ayah pun ikut andil dalam terlahirnya kita di dunia. Namun masih ada bahkan banyak paradigma orang-orang yang menganggap bahwa ibu lebih tinggi derajatnya dari pada bapak.

Suatu ketika saya pernah diajak oleh teman untuk mengikuti sebuah peringatan maulid Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasalam. Di sana dihadiri oleh beberapa ulama dan habaib. Acara itu diisi dengan pembacaan maulid simtud duror, kemudian dilanjutkan dengan tahlil dan sambutan-sambutan. Acara intinya adalah mauidhoh khasanah oleh ulama masyhur di kota saya yaitu Maulana Habib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya.

Dalam mauidhohnya, Habib memberikan berbagai mengenai pentingnya peringatan maulid nabi. Salah satunya adalah agar para umat Islam lebih mencintai Nabinya yaitu Baginda Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wasalam. Karena dengan mencintai Nabi, maka termasuk mencintai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bila sudah mencintai Allah dan Nabi-Nya maka umat Islam akan menaati perintah-perintah Allah dan Nabi serta termasuk menjauhi larangan-larangan Allah dan Nabi Shollallahu Alaihi Wasalam. Dan salah satu perintah Allah dan Nabi adalah birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua). Perintah untuk birrul walidain sudah banyak sekali termaktub dalam Al-Qur’an dan Al Hadis.

Ada penjelasan yang menarik oleh Sang ulama tersebut tentang birrul walidain, khususnya mengenai kedudukan masing-masing dari orang tua kita. Jadi banyak sekali para mubalig sering menyampaikan bahwa ibu adalah orang tua kita yang lebih tinggi kedudukannya tiga kali lipat dari bapak. Ada dasar yang mereka gunakan, saya tidak begitu hafal hadisnya. Yang teringat adalahkalimat“Ummuka… Ummuka… Ummuka… Abuka…” (Ibumu… Ibumu… Ibumu… Bapakmu). Penjelasan yang sering disampaikan adalah ketika itu Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasalam ditanya oleh seorang sahabat tentang orang yang pantas untuk berbuat baik kepadanya dengan tiga kali. Dan Rasulullah pun menjawab ibumu hingga tiga kali untuk setiap kali pertanyaan yang sama. Kemudian pertanyaan yang sama untuk ke empat kalinya, Rasul Sholallahu Alaihi Wasalam menjawab bapakmu.

Dengan jawaban Rasulullah tersebut terkesan bahwa ibu memiliki derajat yang lebih tinggi dari pada ayah tiga kali lipat. Padahal, orang tua kita adalah team yang selalu bersama-sama dalam suka dan duka mulai dari awal mereka bersatu hingga terlahirnya kita semua ini. Mereka memiliki peran masing-masing yang sudah menjadi kodrat mereka. Misalnya ayah yang dengan segala tenaga dan pikirannya selalu menjaga ibu, menafkahi, dan memberi perhatian sepenuhnya kepada sang ibu dan calon anak. Sedangkan ibu, dengan kodratnya yang harus mengandung calon anak, dengan susah payah harus selalu menjaga kondisi kandungan, sehingga anak yang diidam-idamkan akan terlahir dengan lancar dan sehat.

Tausiyah yang disampaikan oleh Sang ulama itu adalah mengajak untuk mengubah paradigm tersebut. Bahwa bapak dan ibu memiliki kedudukan yang sama, derajat yang sama, hak yang sama untuk selalu dibakti oleh anak-anaknya. Pesan beliau, Allah pun sebenarnya sudah memberikan kodenya bahwa laki-laki itu adalah pemimpin atas para wanita. Hal ini mengandung bahwa laki-laki sudah memiliki kedudukan yang tinggi di atas para wanita. Sebagai penjelas bahwa hadis yang telah disebutkan di atas merupakan sebagai penyeimbang bahwa ibu pun memiliki hak yang sama, kedudukan yang sama untuk selalu dibakti oleh anak-anaknya.

Bila melihat seperti itu maka cukup jelas dan paradigm bahwa bapak dan ibu memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah. Mereka pun memiliki hak yang sama untuk selalu dibakti oleh anak. Karena sesungguhnya manusia itu bila dilihat derajatnya maka bukan dari status atau jenis kelaminnya melainkan ketakwaannya kepada Allah Azza Wa Jalla.

Oleh karena itu kita sebagai seorang anak yang memiliki orang tua haruslah selalu taat kepada Allah, kepada Nabi Sholallahu Alaihi Wasalam, dan selalu birrul walidain, berbakti kepada kedua orang tua, menghormati orang tua tanpa harus membedakan kedudukan mereka, karena sesungguhnya mereka memiliki kedudukan yang sama dan hak yang sama untuk selalu dihormati dan dicintai.

Wallahu A’lam.

El Salam, 10 Juli 2009

Read More......

Friday, April 16, 2010

PUISI

Di suatu waktu, saya diajak oleh seorang teman baik saya untuk mengikuti on air di sebuah radio terkemuka di kota saya. Acaranya hanya berupa tanya jawab mengenai teater. Saat itu saya memang tidak mengetahui banyak mengenai teater. Namun teman saya adalah salah seorang ahli di bidang teater. Sehingga saya mengabulkan ajakannya tetapi dalam kapasitas sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa yang membawahi bidang-bidang kegiatan mahasiswa di kampus termasuk bidang teater.

Di sana kami membicarakan beberapa hal mengenai kesenian termasuk teater. Semenjak itu saya agak tertarik dengan hal-hal yang berkaitan dengan teater dan seni. Saya sebagai ketua mahasiswa diberi beberapa pertanyaan tentang teater dan apa yang dilakukan untuk mahasiswa sehingga teater di kampus menjadi lebih maju. Setelah itu pun saya diminta untuk membacakan puisi.

Perasaan menjadi berbeda ketika saya membacakan puisi. Terakhir kali saya membaca puisi lima tahun yang lalu ketika mengisi puisi perjuangan pada upacara peringatan hari Kota Pekalongan 3 Oktober. Kali ini, saya membaca puisi salah seorang pendengar yang berisi tentang Cinta. Dan, itupun tidak ada persiapan sama sekali untuk membacanya. Yang saya rasakan adalah perasaan seperti senang yang susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Seakan-akan saya sangat bergembira, berbunga-bunga, senang, dan lain sebagainya. Sepertinya saya terlena dengan hal-hal indah di dunia yang fana ini.

Setelah saya pulang ke rumah, tetangga depan saya diberitakan sedang dalam sakaratul maut, dan saya diminta untuk membantu membacakan doa dan surat-surat Al-Qur’an. Saya pun datang dan melihat memang tetangga saya sedang naza’. Saya pun bergegas untuk mengambil air wudhu dan mengambil Al-Qur’an. Setelah itu langsung saya bacakan surat Ar Ra’d dan Nuh.

Selama saya membaca Al-Qur’an itu, tetangga saya selalu berteriak “Aku pak bali… aku pak bali… (Aku mau pulang… Aku mau pulang…)”. Terkadang mengucapkan Allah…Allah… namun setiap setelah membaca lafal Allah, beliau berteriak kembali. Saya cukup merinding melihat kejadian itu. Bagaimana tidak, betapa mungkin sakitnya saat dalam kondisi sakaratul maut.

Momen itu sungguh membuat saya kaget karena saya baru saja melakukan hal-hal yang bersifat keduniawian. Saya merasa terlena dengan hal keduniawian yang bersifat fana ini. Momen seperti itu pula yang membuat saya semakin berpikir bahwa sakaratul maut itu sangat menyakitkan bagi yang tidak siap. Seperti yang saya lihat, beliau memang mengatakan ingin segera dijemput, padahal belum waktunya. Sehingga hanya rasa sakit yang dideritanya. Sampai saya menulis ini pun beliau belum meninggal. Ketika manusia dihadapkan penyakit yang keras, kadang kala berputus asa dengan meminta untuk segera diambil nyawanya, mungkin karena tidak kuatnya menahan rasa sakitnya.

Hal ini sungguh perlu dihindari. Setiap manusia telah ditentukan berapa lama ia hidup. Juga kapan ia akan meninggalkan dunia yang fana. Dan sakit itu adalah termasuk kiamat kecil yang bila dirasakan oleh manusia adalah sebuah momen yang baik untuk memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Yang terpenting adalah tidak meminta untuk diambil nyawanya, karena itu termasuk mendikte ketentuan Allah. Juga, manusia tidak boleh berputus asa, baru diberi sakit sudah putus asa, meminta untuk mati. Ini sungguh bukan ajaran Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasallam.

Oleh karena itu, saya mengingatkan diri saya sendiri dan pembaca untuk selalu memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa kita. Kita hindari kata putus asa dan meminta mati, karena itu merupakan perbuatan tercela. Kita manfaatkan umur kita yang sangat singkat ini untuk mengabdi kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kita dianjurkan untuk meminta umur yang panjang yang berkah dengan menggunakannya untuk hal-hal kebaikan terutama beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla.

Wallahu A’lam,

El Salam, 8 Juli 2009

Read More......