Monday, May 18, 2009

Kemudahan berawal dari Cinta


sebuah pernyataan yang mungkin susah untuk dicerna setiap orang. dalam kehidupan seseorang, pasti terdapat berpasang-pasangan misalnya susah dan senang, suka dan duka, termasuk mudah dan sulit. semua itu dapat dihadapi tergantung bagaimana seseorang bisa menghadapi dan menjalaninya.

ketika seseorang dihadapkan pada problematika kehidupan atau kewajiban-kewajiban sebagai insan, sebenarnya tidak perlu ada rasa mengeluh. hanya cukup dengan dikerjakan apa yang mampu dikerjakan, dan tinggalkan apa yang tidak mampu dikerjakan. itu kalau cara simpelnya. namun, terkadang tidak semua yang kita mampu kita sukai untuk kita lakukan. nah, itu bagaimana menghadapinya?

sedikit bercerita tentang pengalaman pribadi, bahwasanya saya tidak memiliki kemampuan dalam berbahasa asing, misal bahasa arab atau inggris. sebenarnya saya ingin sekali bisa mahir dalam berbahasa asing, karena telah kita ketahui bersama bahwa memiliki kemampuan berbahasa asing dapat mendatangkan manfaat yang besar bagi kehidupan kita. dari situ, saya masuk ke dalam kelompok bahasa asing yang ada di kampus.

pada saat itu saya dipaksa untuk mendampingi seseorang untuk memimpin kelompok itu. padahal saya sendiri tidak yakin dengan kemampuan saya baik dalam berorganisasi, maupun berbahasa asing. dari sanalah saya sehingga mengenal berbagai pengetahuan baik itu tentang organisasi ataupun bahasa asing.

semakin lama saya menggulati aktivitas itu, saya menjadi cinta terhadap organisasi dan bahasa asing. terutama yang paling saya cintai adalah bahasa asing, yaitu arab dan inggris. dengan bertemankan alumnus pondok-pondok bahasa yang menggunakan bahasa asing, saya sering tertarik untuk selalu mempelajari. dan ternyata semua itu mudah untuk saya kerjakan karena dilandasi dengan cinta. kalau orang bilang, orang yang sedang kasmaran pun bila sudah diiringi rasa cinta, kemanapun dimanapun dan kapanpun akan mudah untuk menjumpai pasangannya, baik itu hujan atau panas tak peduli. yang penting bisa sampai kepada apa yang ditujunya.

dalam hidup seseorang, perlu didasari rasa cinta kepada kehidupan itu sendiri. hidup kita anggap sebagai anugerah yang terindah yang diberikan kepada manusia. hidup, meskipun sangat banyak rintangan dan perlu perjuangan keras, bila didasari cinta, maka semua itu akan dihadapi dengan mudah. so, tak perlu bingung untuk mendapatkan sesuatu atau menuju kepada sesuatu. cukup cintai dan raih dengan mudah. insya Allah.

Wallahu a'lam

El Salam, 17 Mei 2009

Read More......

Inikah Islam menghargai Umatnya?

seminggu yang lalu, STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Pekalongan, tepatnya Rabu-Kamis 13-14 Mei 2009 menjadi tuan rumah event 2 tahunan antara STAIN se-jawa yaitu PORSENI IV STAIN Se-Jawa. Kegiatan akbar itu dimeriahkan oleh 9 STAIN yang ada di Jawa seperti Pekalongan, Purwokerto, Cirebon, Surakarta, Kediri, Tulungagung, Salatiga, Ponorogo, dll. Acara tersebut dibuka oleh perwakilan Gubernur Jawa Tengah dan ditutup oleh Pembantu Ketua III STAIN Pekalongan.

acara tersebut sungguh meriah, dengan ditandingkannya berbagai macam perlombaan di berbagai cabang yaitu cabang seni dan olahraga. di cabang olahraga, dilombakan futsal, tenis meja, dsb. sedangkan seni seperti pidato bahasa arab dan inggris, kaligrafi, dsb. setiap kontingen mengirimkan banyak mahasiswa pecinta olahraga dan seni.

hal yang sangat menarik bagi penulis, selaku pengamat dan partisipan dalam kegiatan itu dalam perlombaan pidato bahasa inggris. penulis mengamati adanya ketidaklaziman di kegiatan ini khusus bagi tuan rumah. tidak bermaksud menjelekkan atau menjatuhkan nama baik, tetapi penulis berusaha untuk menganalisis seberapa besar pengaruh nama 'Islam' yang tercantum dalam STAIN Pekalongan.

ketidaklaziman yang telah ditangkap oleh penulis adalah ketika pendanaan untuk kegiatan ini disebutkan oleh pihak atasan bahwa dana yang digunakan untuk mengadakan kegiatan ini adalah sangat banyak. namun, di satu sisi para atlet dari stain pekalongan tidak mendapatkan fasilitas yang memadai. setelah penulis bertanya mengenai apa saja yang diperoleh atlet pekalongan, ternyata tidak sebanding dengan apa yang dikatakan oleh pejabat stain yang katanya sangat banyak.

hal ini dicontohkan misalnya, para atlet stain pekalongan mendapatkan jatah makan siang saja setiap harinya, tidak mendapatkan uang transport, tidak mendapatkan seragam yang cukup (hanya satu). padahal, setelah diamati dan ditanyakan kepada kontingen selain stain pekalongan, mereka, para tamu, mendapatkan fasilitas yang baik. seperti penginapan di hotel, makan pagi dan malam di hotel, makan siang di kampus, mendapatkan uang transport, seragam yang layak, jaket, kaos, batik, dsb.

bukan untuk mengedepankan keirian dan kedengkian terhadap orang lain, namun di sini perlu diperhatikan bahwa mahasiswa yang menjadi atlet stain pekalongan sebagiannya adalah permintaan. artinya, mahasiswa tidak meminta untuk menjadi atlet, namun direkrut oleh kampus. hal ini berarti bahwa mahasiswa adalah tamu ataupun relawan yang istimewa yang bersedia untuk membantu stain pekalongan untuk menjunjung nama baik mereka.

akan tetapi, meskipun sebagai relawan, mereka tidak mendapatkan fasilitas yang seharusnya didapatkan oleh mereka. masa hanya kaos bagi atlet olahraga, batik untuk yang seni.lebih buruk dari porseni tahun yang lalu yang untuk cabang seni mendapat batik dan kaos, sedangkan untuk cabang olahraga mendapatkan kaos dan trainingnya. ini menunjukkan sebuah penghinaan yang tak tersadari yang diberikan kepada para atlet stain pekalongan.

mengapa penulis menulis demikian?
sesungguhnya ini merupakan sebuah hal yang sangat ironis ketika kampus yang mengusung adalah kampus yang berlabelkan 'Islam', yang seharusnya menghormati dan menghargai jasa orang-orang yang telah membantu. setidaknya diberi fasilitas yang layak sebagaimana para tamu dijamu dengan baik. diberi fasilitas yang bagus sehingga atlet merasa bersemangat dalam melaksanakan tugasnya.

bila setiap atlit mendapatkan kenyamanan sebelum melaksanakan tugas, termasuk ketika melaksanakan tugas, maka semua akan berjalan lancar. penulis tahu bahwa memang stain pekalongan telah menggaet piala bergilir karena telah menjadi juara umum. namun, kemenangan itu seharusnya menjadi evaluasi bagi para pejabat untuk lebih mengedepankan atlet daripada nama baik terlebih dahulu. karena nama baik itu akan diperoleh dan tetap terjaga bila para atlet diberi penghargaan yang setinggi-tingginya.

bila seseorang ingin dihargai oleh orang lain, maka berusahalah untuk menghargai diri sendiri......

wallahu a'lam


zidni el salam

Read More......

Doa Ibu Ada di dalam Ucapannya

Pengalaman menarik yang pernah saya alami dalam hidup berkaitan dengan ucapan-ucapan ibu. Mulai dari hal-hal yang berakibat positif dan negatif. Memang tulisan ini tidak terlalu menarik karena sudah menjadi hal yang umum di Negara ini ataupun di dunia. Mulai dari cerita Malin Kundang, sampai cerita-cerita kecil yang saya sendiri kurang hafal.
Sudah berkali-kali ketika ibu tidak merestui kita untuk melakukan sesuatu, akan terjadi sesuatu yang tidak kita duga sebelumnya. Misalnya dulu ketika saya pergi tanpa ada izin dari orang tua terutama ibu, saya mendapatkan berbagai “kecelakaan” yang tidak saya duga sebelumnya. Helm hilang, kecelakaan di jalan, dan lain sebagainya.
Contoh yang tadi adalah sebagian contoh negatif yang pernah saya peroleh dalam hidup. Namun sesungguhnya banyak sekali hal-hal positif yang pernah saya dapatkan dan itu menjadi sebuah pengalaman terbesar dan yang tak terlupakan dalam hidup. Dan bisa jadi akan menjadi sebuah nasib saya.
Suatu ketika ibu saya bertanya kepada seorang guru di sebuah SMP. Sebut saja Ghufron. Dia adalah seorang lulusan pondok pesantren. Dia adalah teman dari paman saya. Ibu saya bertanya apakah dia mengajar pendidikan agama Islam di SMP tersebut, sebab ibu hanya tahu bahwa dia adalah lulusan pondok. Ibu terkejut ketika dia menjawab tidak. Dia mengajar bahasa inggris, bukan pendidikan agama Islam.
Dari situ, ibu pernah terucap dalam lisannya bahwa Ibu menginginkan anak-anaknya pandai dalam pendidikan agama Islam. Konsisten dalam menjalankan agama Islam. Bukan hanya itu saja, Ibu menginginkan kalau anak-anaknya juga memiliki ketrampilan dalam berbahasa Inggris. Ternyata ucapan ibu berbuah hasil, dan Allah sedang mendengar ucapan Ibu. Ucapan ibu merupakan sebuah doa.
Waktu berganti waktu, suatu ketika saya dipanggil oleh guru bahasa Inggris di SMA N 3 Pekalongan. Setelah saya menghampirinya, beliau menginginkan saya untuk menggantikan beliau untuk sementara waktu sebagai volunteer pengajar bahasa Inggris di sebuah desa. Menjadi pengajar bahasa Inggris bagi anak-anak SMP/SMA dan setara dalam program bimbingan anak asuh.
Sempat menolak karena saya tidak merasa mampu untuk mengajar bahasa Inggris, melihat dulu ketika berada di SMP dan SMA nilai saya hanya pas-pasan. Namun setelah diterangkan bahwa apa yang diajarkan hanya dasar-dasarnya saja. Akhirnya saya memberanikan diri untuk melaksanakan apa yang diinginkan oleh guru SMA saya itu. Dari situ saya mengolah kembali bahasa Inggris sekaligus belajar bahasa Inggris namun dengan cara mengajarnya.
Apa yang saya lakukan itu tidak pernah saya ceritakan kepada orang tua atau Ibu. Saya berpikir bahwa apa yang saya lakukan tersebut tidak sesuai dengan apa yang pelajari di STAIN Pekalongan yang merupakan pendidikan agama Islam. Namun suatu ketika seorang teman saya mampir ke rumah, dan menanyakan tentang volunteer tersebut. Ibu tidak mengetahui apapun. Setelah ibu bertemu saya, beliau bertanya tentang hal tersebut. Dan akhirnya saya menceritakan apa saja yang telah saya lakukan tersebut. dan, Ibu menangis. Ternyata salah seorang anaknya tertarik dengan bahasa Inggris.
Apa yang saya duga ternyata salah. Saya telah menduga bahwa orang tua saya tidak akan mengizinkan saya untuk bergelut dalam pendidikan yang bukan termasuk dalam pendidikan agama Islam sebagaimana di STAIN. Ternyata mereka sangat mendukung saya, dan selanjutnya saya tetap mengajar di tempat tersebut selama dua bulan. Setelah itu guru saya kembali mengajar dan saya pun tidak mengajar lagi.
Beberapa bulan kemudian ketika saya bersama teman menghadap seorang Pembantu Ketua di kampus, saya di tawari sebuah beasiswa kursus singkat di Amerika. Awalnya saya tidak terlalu tertarik karena salah satu persyaratannya adalah untuk mahasiswa minimal semester 5, sedangkan saya masih duduk di semester 4. Namun karena ajakan teman-teman untuk mengikuti tes TOEFL yang diadakan oleh kampus, akhirnya saya mengikuti tes tersebut. Niat saya hanya untuk memprediksi kemampuan bahasa Inggris saya dilihat dari tes tersebut.
Setelah tes saya laksanakan, saya mendapat nilai yang tidak terlalu banyak, mendekati nilai minimal untuk mengikuti persyaratan pendaftaran beasiswa itu. Namun, beberapa dosen merekomendasikan saya untuk mengikuti pendaftaran tersebut. mereka berusaha agar saya dan kawan-kawan bisa berpartisipasi dalam pendaftaran beasiswa itu meskipun nilainya hanya mendekati saja. Sayangnya saya tidak diperkenankan oleh pihak penawar beasiswa karena nilai saya tidak mencukupi dan saya masih duduk di semester 4.
Perasaan kecewa tidak terlepas dalam diri saya, tetapi tidak membuat saya larut dalam kesedihan. Saya kembali menjalani hidup sebagaimana biasa. Tak selang beberapa bulan, saat saya sudah masuk awal semester 5, tawaran beasiswa tersebut muncul kembali di kampus, dan saya sangat tertarik dengan beasiswa itu. Di kampus langsung mengikuti tes TOEFL sebagai prediksi score saya. Dan Alhamdulillah saya mendapatkan nilai yang cukup untuk mengikuti pendaftaran tersebut.
Setelah saya mendaftarkan diri dan mengikuti berbagai tahap-tahapnya, saatnya menunggu hasil dari apa yang selama ini saya usahakan. Tentunya tidak terlepas dari kendali doa orang tua dan ibu. Satu persatu kawan-kawan saya diterima untuk study bahasa Inggris di Amerika. Giliran saya belum ada pengumuman. Saya berusaha untuk menunggu untuk beberapa hari, namun tidak ada satupun yang menghubungi saya bahwa saya diterima atau tidak.
Suatu ketika seorang teman memberi saran kepada saya untuk menghubungi pihak pemberi beasiswa untuk mengkonfirmasi. Dan, ternyata Allah menunjukkan takdirku, Allah mengabulkan doa Ibu, Allah mengabulkan doa Abah, Allah mengabulkan doaku selama ini. Saya diterima sebagai penerima beasiswa kursus singkat bahasa Inggris di Amerika Serikat. Subhanallah.
Tak terduga selama ini apa yang tidak pernah saya bayangkan telah terjadi seperti ini karena kekuasaan Allah. Teringat ucapan ibu ketika saya dan Ibu sedang membereskan buku-buku dan menemukan daftar nama-nama dosen yang pernah belajar di luar negeri. Sedikit guyon, saya bilang kepada Ibu, “Bu, misalnya saya belajar di luar negeri gimana Bu?” Ibu menjawab. “Top, Ibu akan sangat bangga, karena kamu akan membawa nama baik orang tua dan keluarga yang selama ini dianggap remeh sama orang-orang”. Saya hanya mengamini saja. Dan ternyata apa yang diucapkan ibu adalah doa untuk saya.
Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa sering-seringlah bersama ibu Anda. Berguraulah (yang baik) dengan beliau. Mintalah doa beliau, insya Allah terkabul. Tentunya dengan usaha yang sepadan. Juga ketika berkomunikasi dengan beliau. Seringlah sharing bersama beliau permasalahan yang Anda alami. Saling mencari pemecahan masalah Anda dan masalah beliau.
Ketika Anda bersama beliau, maka janganlah sekali menganggap enteng guyonan beliau, bisa jadi ketika malaikat sedang mendengar percakapan kalian, dan ternyata Ibu Anda mendoakan Anda, bisa saja itu merupakan sebuah doa yang akan dikabulkan. Insya Allah.
Saya berharap agar saya dan Anda semua bisa selalu menghormati orang tua kita, karena merekalah kita dilahirkan dan dibesarkan. Junjung nama baik orang tua Anda dengan cara apapun. Buat mereka senang dengan kita. Buat mereka bergembira karena kesuksesan kita yang mana adalah hasil jerih payah mereka juga. Jadilah orang yang bisa membahagiakan orang tua.
Semoga Allah mengampuni dosa orang tua kita, dan menyayangi mereka sebagaimana mereka mendidik kita sejak kecil. Wallahu A’lam Bis Showab.

Zidni ,
Pekalongan, 3/28/09

Read More......